SEJARAH GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN (GKPS) BATAM

Batam pada Tahun 1970-an adalah pulau kecil dan terbelakang di Kepulauan Riau tanahnya yang gersang dengan bebatuan berwarna-warni seolah menunjukan betapa sulitnya kehidupan didaerah ini jika dijadikan sebagai lahan pertanian.
Suku laut merupakan penduduk asli pulau Batam,perahu merupakan alat mata pencaharian yang sangat berharga bagi mereka untuk menangkap ikan dan mengarunggi lautan,tempat tinggal mereka selalu berpindah-pindah (nomaden).Kondisi seperti itu penduduk yang tinggal di Batam tidak dapat berharap banyak,keadaanya sangat memprihatinkan,tidak ada pendidikan apalagi teknologi modern,dengan kata lain pada tahun seribu Sembilan ratus tujuh puluhan Pulau Batam tidak menjanjikan masa depan sehingga para pendatang sering tidak bertahan karena sulitnya kehidupan.
Batam adalah sebuah pulau yang pada tahun 1970 masih terbelakang dibandingkan daerah lain.Pulau Batam dalah bahagian dari wilayah Kecamatan Belakang Padang.Jumlah penduduk yang berdiam di Batam relative kecil.Para pendatang jarang bertahan karena sulitnya kehidupan.Penduduk pribumi (suku laut ) berdiam di perahu dan mata pencaharianya menangkap ikan.
Pulau Batam pulau yang kecil (tiga per empat dari Singapura),letaknya sangat dekat dengan Singapura,Malaysia.Pada Tahun 1973 pulau kecil yang tertinggal ini mulai dilirik Pemerintah untuk dijadikan asset yang besar bagi Negara,dan keluarlah Kepres No 74 tahun 1973,bahwa pengelolaan dan penataan pembangunan berada dibawah naungan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam dan Pulau Batam secara resmi menjadi Zone industri.Roda Pembngunan pun disegala sector mulai dikembngkan,letaknya yang strategis berdampingan dengan Negara lain sangat menarik investor baik dari dalam Negri maupun dari berbagai Negara.Maka seiring perkembangan Zaman,kabar baik yang menggembirakan ini pun tersebar dibawa anggin,termasuk ke daerah Simalunggun.Pada Tahun 1973 sudah ada putra Simalunggun yang menginjakan kaki di Pulau Batam (bumi Melayu) bukan untuk mengadu nasib tapi mengadu kemampuan atau mencari pekerjaan.
Tahun demi tahun,Batam Semangkin menunjukan kemajuan dan suku Simalunggun semangkin bertambah.Jauhnya kampung halaman dari rantau (tanoh hatubuhan)menyatukan hati dan pikiran (bagaimana supaya orang Simalunggun yang di perantauan tidak hilang melainkan boleh berkembang “totap sada ahap”sekalipun di tanah rantau.Melalui perjalanan panjang keinginan itupun terkabul dan pada Tahun 1985 ada kesepakatan membentuk Ikatan Keluarga SImalunggun (IKS).
Pertemuan pertama diadakan di rumah diadakan di rumah Kel.TR.Matondang/Br.Saragihdi Blok IV Nagoya.IKS selanjutnya mengadakan program dan aktifitas kegiatan antara lain: kumpulan sekali sebulan,Bona taun,saling mengunjungi/saling memperhatikan sehingga tercipta suasana seperti tano simalunggun walau di daerah Melayu,IKS bukan kumpulan Agama tapi suku Keluarga Simalunggun,baik kelaurga asli bermarga Simalunggun atau kawin campur Simalunggun dengan suku marga lain,tanpa membedakan agama dan kepercayaan yang dianut,Moto IKS adalah untuk mempererat “AHAP SIMALUNGGUN” sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa IKS menjadi titik dasar embrio lahirnya GKPS di Batam.
Ikatan Keluarga Simalunggun (IKS) menjadi suatu wadah perkumpulan warga Simalunggun di Pulau Batam yang bergerak di bidang social budaya/ahap SImalunggun.Setiap awal Tahun mengadakan Perkumpulan /Partuppuan Bona Tahun.Partuppuan ini berlangsung sebanyak tiga kali yaitu tahun 1985,1986,1987.

Pada tahun 1985 di rumah : Kel.TR.Matondang/br.Saragih di Blok IV Nagoya
Pada tahun 1986 di rumah : Kel.St.SE.Girsang/br.Sumbayak di blok V Nagoya
Pada tahun 1987 di rumah : Kel.Damri.Saragih/br.Siregar di Sei Panas.

Pengurus Ikatan Keluarga Simalunggun (IKS) yang pertama dibentuk di Pulau Batam adalah
Ketua : Samen E Girsang
Sekretaris : Paris Damanik
Bendahara : T.R.Matondang

Jumlah anggota IKatan Keluarga Simalunggun (IKS) di Batam sebanyak 12 KK antara lain :

1.Kel.SE.Girsang/Mariani Roselinda br.Sumbayak di Blok V Nagoya
2.Kel.Paris Damanik/R.br Sinaga di Blok IV Nagoya
3.Kel.T.R.Matondang/br Saragih di Blok IV Nagoya
4.Kel.Kasman Damanik/br Tobing di Sekupang
5.Kel.Rustam Efendi Purba/br.Tobing di Sekupang
6.Kel.Damri Saragih/br.Siregar Sei Panas
7.Kel.J.Saragih/br.Purba di Blok IV Nagoya
8.Kel.Drs.J.Girsang/br.Melayu di Tiban
9.Kel.R.Nababan/br.Sinaga di Pulau Sambu
10.Kel.Efendi Saragih/br.Ambon di Sekupang
11.Kel.J.Sembiring/br Sinaga di Pulau Sambu
12.Kel.Juliaman Sinaga /br.Tambunan

Ikatan Keluarga Simalungun (IKS) Batam merupakan suatu wadah perkumpulan tanpa memandang suku agama Kristen atau agama Islam,tetapi mempunyai satu tahap yaitu : Ahap Simalunggun sebagai tolak ukur menjdi warga Ikatan Keluarga Simalunggun (IKS) Batam yaitu:
1.Orang Simalunggun
2.Orang Simalunggun campuran (perkawinan campuran)
3.Orang yang bukan Simalunggu dan bukan perkawinan campuran misalnya : mereka yang dilahirkan di Kabupaten Simalunggun,juga ikut hadir dalam perkumpulan.

Informasi tentang keberadaan IKS Batam diberitahukan kepada Pdt.R.J Girsang (pendeta Resort Pekanbaru)oleh Ny.S.E.Girsang/M.br.Saragih saat tugas belajar di Pekanbaru.Berita ini disambut positif dan menurut data bahwa sebagian besar anggota IKS adalah beragama Kristen.Melihat data-data tersebut Pdt.R.J.Girsang menyambut baik dan berencana mengunjunggi IKS Batam.

Dalam kunjungan Pdt.R.J.Girsang (Maret 1988),beliau mengadakan tatap muka dengan warga IKS sekaligus mengadakan partonggongan yang pertama bertempat di rumah keluarga Bapak Samen E.Girsang/br.Saragih di Blok V Nagoya.Dalam pertemuan inilah dibicarakan juga untuk mengadakan partonggongan lanjutan.

Pada tanggal 13 April 1988 Pdt.R.J.Girsang kembali mengadakan kunjungan ke Batam dalam rangka tugas dari PGI Provinsi Kepri,sekaligus Khobah di Gereja HKBP Lubuk Baja Nagoya Batam.Kegiatan kunjungan-kunjungan ini dilaporkan Pdt.R.J.Girsang kepada Pimpinan Pusat GKPS di Petang siantar,dan Pimpinan Pusat menyambut baik.

Bahkan Pimpinan Pusat melihat Batam di Kepulauan Riau sangat tepat dijadikan sebagai wilayah konsentrasi Pelayanan Pekabaran Injil.Mengingat bahwa pulau-pulau tersebut belum ada berdiri GKPS,sementara putra-putri Simalunggun sudah mulai mengepakkan sayap untuk mengais rejeki di pulau-pulau tersebut.Pada pertenghan tahun 1988 Pimpinan Pusat (sekjen GKPS) Pdt.H.M.Girsang berkunjung ke Batam didampinggi oleh Prases GKPS Distrik III Medan Pdt.J.K.Purba dan Pendeta Resort Pekanbaru Pdt.R.J.Girsang.Dalam kunjungan tersebut diadakan tatap muka di rumah bapak Samen E.Girsang/br.Saragih di Blok V Nagoya sekaligus mengevaluasi peluang dan harapan mendirikan Gereja GKPS.

IKS Menjadi Embrio GKPS

Kepulauan Riau telah ditetapkan sebagai wilayah konsentrasi Pelayanan Perkabaran Injil khususnya Pulau Batam dan Tanjung Pinang.Sebenarnya anggota IKS yang beragama Kristen sudah terdaftar menjadi anggota gereja tetangga di HKBP Batam,namun pada dasarnya masih mengakar jiwa GKPS dan Simalunggun pada setiap anggota IKS.Jiwa yang mengakar tersebut di wujudkan dengan partonggoan (Kebaktian Keluarga Bahasa Simalunggun)dari 1x sebulan menjadi 2x sebulan.

Tanggal 03 April 1990 (Pdt.A.Munthe ) Praeses Distrik III (Pdt.J.K.Purba) dan pendeta Resort pekanbaru mengunjunggi IKS Batam.Dalam pertemuan dirumah St.Drs.J.Purba/br.Hasibuan di Baloi bukan hanya sekedar partonggoan biasa melaikan mendata ulang serta mengevaluasi anggota IKS yang ternyata semangkin bertambah jumlah anggotanya.Evaluasi menunjukan bahwa Ikatan Keluarga Simalunggun (IKS)Batam sudah layak menjadi GKPS persiapan Batam.Kesepakatan tersebut dilanjutkan dengan menunjuk penggurus harian GKPS Persiapan Batam oleh Pimpinan Pusat GKPS (Ephorus Pdt.A.Munthe) sebagai berikut:

Pengantar Jemaat : St.Cj.Purba
Wakil Pengantar Jemaat : St.Drs.Janusi Purba
Sekretaris : Sy.Samen Girsang
Bendahara : Sy.Paris Damanik
Anggota : 1.St.Mariani Saragih
2.Sy.Parlin Simanjorang
3.Juliarman Sinaga (Sie.Konsumsi)

Disamping mengangkat pengurus Harian GKPS Persiapan juga mengangkat Parhorja Kuria (Syamas) sebanyak 5 pengurus baru.Pimpinan Pusat juga memberikan seperangkat fasilitas Ibadah/Liturgi antara lain:
– Agenda GKPS
– Bibol
– Buku Doding /Buku Haleluya
Selain fasilitas ibadah,Pimpinan Pusat juga mengadakan Evangelisasi.Sejak ditetapkan pengurus harian GKPS Periapan,maka jemaat /Parhorja Kuria (St) yang melayani di Gereja HKBP resmi pindah Kuria.Gereja HKBP Nagoya (voorhanger St.B.Hasibuan BBA),Turut mendukung penuh atas rencana pembentukan gereja GKPS di Batam.
Dua minggu kemudian tepat pada tanggal 22 April 1990 Kebaktian berbahasa Simalungun yang selama ini dengan IKS berubah menjadi kebaktian yang berlangsung di rumah bapak St.C.Y.Purba/br.Saragih di Pasar Pelita.
Ikatan Keluarga Simalungun (IKS)telah berubah dari wadah pertemuan perantau Simalungun yang ada di Batam menjadi embrio GKPS Batam.Perkembangan ini pun selalu dimonitor dan diddukung oleh Pimpinan Pusat GKPS.Usaha dan doa tidak pernah berhenti oleh Pimpinan Pusat maupun jemaat Persiapan Batam.Benih telah disemaikan tetap butuh perawatan supaya benih yang disemaikan tumbuh mengalahkan lalang.
Untuk meningkatkan pelayanan dan pembinaan agar lebih tumbuh dan berkembangnya jemaat GKPS Persiapan yang ada di Tanjung Pinang dan yang ada di Batam Pdt.Rebin J.Z.Girsang dan Pdt.Jadasri Dosdo Saragih pada tanggal 14 Agustus 1990 mengunjunggi dan mengadakan pertemuan di rumah keluarga Sy.Paris Damanik/br.Sinaga di Blok IV Nagoya.
Seiring dengan berkembangnya pembangunan Pulau Batam,jumlah pendatang di Pulau Batam juga semangkin hari semangkin meningkat termasuk warga Simalunggun yang semangkin hari semangkin bertambah.Hal ini dapat dibuktikan setelah diadakan pendataan ulang anggota IKS yang telah berubah menjadi GKPS Persiapan.
Pada tanggal 16 Septembe 1990 kebaktian diadakan dengan tata ibadah gerejawi bahas Simalunggun,secara resmi pemakaian agenda GKPS dilakukan untuk pertama kalinya yang diadakan di rumah bapak Pelman Damanik/br.Harianja di Tanah Mariani br.Saragih.Jumlah anggota terdaftar terdiri dari :
15 Kepala Keluarga :
1.St.C.Y.Purba/R.br.Saragih 9.K.Damanik/br.Tobing
2.St.Drs.Janusi Purba/br.Hasibuan 10.Mama Yanti br.Sinaga
3.St.SE.Girsang/St.Mariani br.Saragih 11.P.Hutahaean/br.Damanik
4.Sy.Paris Damanik/R.br.Sargih 12.Ir.Richard Pasaribu/br.Purba
5.Sy.Parlin simanjorang/br.Purba 13.SP.Sipayung/br.Napitupulu
6.St.Jokter Saragih/br.Purba 14.P.Damanik/br.Harianja
7.J.Alimson Purba/br.Damanik 15.Rustam Purba/br.Tobing
8.Juliana Sinaga/br.Tampubolon

20 Anggota Pemuda :

1.Henri jhontani Saragih 10.samson Saragih
2.Saut Saragih 11.Albert Hasibuan
3.Suryani Saragih 12.Parlin Purba
4.Duma Romiris Poha 13.Drs.Samuel Purba
5.Linson Purba 14.Toropian saragih
6.Jeni Saragih 15.Binku Saragih
7.Rimbun Purba 16.Ir.Ivan Purba
8.Riduarman Saragih 17.Arsenalius Saragih
9.Drs.Forty Yearman Purba 18.Makmur Manihuruk

Pada Tanggal 16 September 1990 juga dibentuk pengurus pemuda yaitu :
Pembimbing Muda : Sy.P.Damanik
Ketua : Henri Jhontani Saragih
Sekretaris : Albert Hasibuan
Bendahara : Duma Rumiris Pohan

Istilah populuer di Simalungun “burung yang tak punya sarang” ibaarat manusia yang tak punya rumah “amatlah sedih” dan menyakitkan tapi “ASAR NASO MARDINGIS” ternyata lebih kronis lagi,Pepatah ini sangat memacu semangat,terutama pada pelayan gereja istimewanya Pimpinan Pusat GKPS Pdt.J.Damanik selaku Ephorus.Untuk menjaga tidak terjadi asar naso mardingis (gereja nalang marjemaat),Pimpinan Pusat,Pendeta Resort,Pendeta yang diperbantukan tidak henti-hentinya mengadakan pembinaan evaluasi.

Pada tanggal 11 Maret 1991 Ephorus Pendeta GKPS Jasmin damanik.Praeses Distrik III Pdt.J.W.Saragih dan Pendeta Resort pekanbaru kembali mengunjunggi GKPS Persiapan Batam setelah sebelumnya mengunjunggi GKPS Persiapan Tanjung Pinang.Kunjungan pimpinan Pusat ini selain melihat langsung keberadaan Jemaat GKPS Persiapan Batam juga diadakan pembinaan/evangelisasi.Dalam kesempatan ini Ephorus menekankan bahwa untuk membangun suatu gereja kunci pertama dan utama adalah mempersiapkan jemaat sebagai Gereja yang HidupKarena memambangun Gereja adalah jauh lebih mulia dibandingkan membangun Jemaat yang hidup dan percaya.Ibarat asar naso mardingis adalah lebih tragis dari pada dingis naso marasar.Evangelisasi ini diadakan di rumah St.Drs.Janusi Purba Hasibuan di Baloi Center.

Kesulitan dalam melaksanakan kebaktian masih dirasakan,GKPS Persiapan yang belum mempunyai tempat ibadah menetap>kebaktian diadakan berpindah-pindah dari rumah yang satu kerumah anggota jemaat yang lain.Sementara jarak rumah anggota cukup jauh.Walaupun penuh tantangan dan kesulitan semangat tidak memudar,pembinaan demi pembinaan tetap dilakukan dan segala sesuatu yang diangap perlu untuk menyegarkan/membangun iman dan pengharapan Jemaat tetap diupayakan gedung Gereja bukan yang utama,tetapi Gereja yang hidup yang ditemukan disetiap jiwa jemaat itulah yang utama dari arti sebuah Gereja.

Horja banggal Napansing (Perjamuan Kudus) pertama kali dilakakan di sebuah kantor Asuransi Jiwa Sraya (tempat bekerja Bpk. St.Jokter Saragih/BA.br.Pohan) dilayani oleh Pdt. Jadasri Dosdo Saragih, tepat pada tanggal 7 November 1990. Setelah perjamuan Kudus dilaksanakan pada akhir tahun, maka perayaan Natal semakin dekat. Tanpa menghiraukan sebuah gedung, Natal pertama bagi KGPS Persiapan Batam dilaksanakan tepat pada tanggal 28 Desember 1990 yang berlanggsung di rumah keluarga St.Drs.J.Purba/br.Hasibuan. Poin pada momen-momen di atas perlu diambil bahwa gedung bukan satu ukuran, Waupun gedung megah dan permanen sesuatu yang didambakan.

TEMPAT IBADAH SEKALIGUS PENAMPUNGAN

Mencatat beberapa kesulitan dalam menjalankan kebaktian Minggu yang selalu berpindah-pindah dari rumah ke rumah, sedang rumah antara anggota relatif jauh, maka diprakarsailah untuk membuat suatu rumah khusus untuk tempat ibadah. Usaha untuk mencari lokasi gereja pun digagasi. Murah dan terjangkau dari lokasi yang trategis. Untuk merealisasikan usaha tersebut GKPS Persiapan Batam mengganti rugi sebidang tanah yang di atasnya berdiri satu rumah yang sangat sederhana, bertempat di blok IV Nagoya, bahan dinding yang terbuat dari triplek, atap terbuat dari bahan getah. Bangunan ini dijadikan menjadi tempat ibadah GKPS Persiapan Batam, lokasi berada di belakang perumahan masyarakat daerah blok IV, maka tidak mengherankan kalau aroma tidak sedap sering tercium, karena di kiri dan kanan merupakan saluran pembuangan dari komplek perumahan disekitarnya.

Pada tanggal 30 Juni 1991 momen berserah berlangsung, kebaktian minggu pertama di sebuaah gereja (rumah yang dimaksud dijadikan tempat ibadah) Kebaktian diadakan malam hari pukul 19.00 Wib. Kebaktian diadakan duduk dengan menggelar tikar sebeb fasilitas tempat duduk belum ada. Lalu bila tempat itu pun mampu memuliakan Tuhan, apakah gedung mewah dan permanen I punya nilai lebih untuk memuliakan Tuhan. Tentu ini harapan semua jemaat. Sementara waktu berlalu, keberaddan pulau Batam terus melaju. Perkembangan diberbagai sektor terekspos ke berbagai tempat, Termasuk ke daerah Simalungun. Sebagai tempat berkembang peluang untuk memdapatkan pekerjaan terbuka lebar. Sejalan dengan itu berdatangan pemuda-pemuda dari daerah Simalungun. Baik perorangan maupun kelompok pemuda-pemudi Simalungun datang ke pulau ini tanpa ada keluarga yang dituju, Gereja GKPS Persiapan agaknya sudah mulai terdengar di desa Simalungun dan gereja ini jualah satu-satunya tempat yang akan dituju oleh pemuda Simalungun yang dating merantau ke Batam. Oleh majelis Jemaat mereka ditempatkan di rumah ibadah sebagai tempat penampungan sementara. Untuk penghuni pertama tercatat antara lain : Bentul Damanik, Henry Jontani Saragih, Parlin Purba, Berano Girsang, Jonsyah Purba, Jomser Saragih, dan selanjutnya dating rombongan yang disebut Pitu saodoran yaitu Laban Saragih, Elianson Saragih, Jokerman Sipayung, Larmen saragih, Sangap Purba, Jawasen Purba, Riahman Sipayung. Rumah ibadah yang dimaksud menjadi 2 fungsi dimana hari minggu sebagai tempat kebaktian sementara hari biasa (senin-sabtu) sebagai pemondokan pemuda pencari kerja.

Waktu terus berjalan, pendatang pun terus bertambah, jumlah jemaat bertambah cepat, sehingga perbaikan dan perluasan pada bangunan gereja dilakukan mengingat pesatnya perkembangan jumlah jemaat (khususnya pemuda) untuk meningkatkan pelayanan/pengidangion di tengah-tengah jemaat.

PERKEMBANGAN MAJELIS JEMAAT

Meningat pesatnya pertambahan anggota khususnya pemuda, diras perlu menambah tenaga pelayan (anggota majelis jemaat). Hal ini berlangsung 3 x setelah pengangkatan pertama tanggal 03 April 1990.
I. Agustus 1991
1. Sy.Elianson Saragih
2. Sy.Labansius Saragih
3. Sy.Bentul Dmanik
4. Sy.Jonsah Saragih
5. Sy.Rinduaman Saragih
6. Sy.YL.Sinaga
7. Sy.Henri Jontani Saragih
8. Sy.J.Alimson Purba
II. Desember 1991
1. Sy.Ir.Jhan Kandy Saragih
2. Sy.Ir.Arifin Purba
3. Sy.Ir.Janner damanik
4. Sy.Ny.YL.Sinaga/br.Munthe
5. Sy.JN.Purba
III. Pebruari 1994
1. Sy.Edi LH.Saragih Purba, SE
2. Sy.Drs.Hotman Girsang
3. Sy.S. Sipayung
4. Sy.Horasman Saragih, SE
5. Sy. Ir.Lensimen Saragih

Disamping itu ada 2 orang sintua pindah tugas ke Batam, Nopember tahun 1992 masuk menjadi anggota Majelis Jemaat Yaitu :
1. St.H.Saragih (St. HKBP) dari Pekan Baru
2. St.Djasarmen Purba (St.GKPS) dari Medan
Dilokasi gereja blok IV ini juga tercatat sebagai tempat Natal pertama Pemuda GKPS Batam yaitu tanggal 7 Desember 1991.
Perkembangan yang lebih baik pun terus berjalan. Kebaktian pun ditingkatkan menjadi sekali seminggu, Jam masuk dirubah menjadi jam 10.00 Wib, dimulai pada tanggal 2 Agustus 1991. Kemudian di gereja ini dilaksanakan Baptisan Pertama yaitu tanggal 23 agustus 1993 yang di ikuti oleh 4 orang anak yaitu dari :
1. Kel.J.Naftali Girsang/br.Silalahi
2. Kel.J.Purba/br.Simanjuntak
3. Kel.Getok Damanik/br.Sinaga
4. Kel.Jemaat yang menumpang

Bulan September sebagaimana GKPS lainnya mengadakan perayaan masuknya injil di Simalungun, maka GKPS Persiapan Batam pun ikut merayakan Jubelium sebagai ucapan sukacita masuknya Injil di Simalungun. Untuk pertama kalinya perayaan Olob-olob trjadi di Kepulauan Riau yang dilangsungkan padda tanggal 6 September 1992.

Lapangan kerja terbuka luas,akhirnya Batam bukan hanya incaran para penanam modal tapi juga in
Caranpara pencari kerja.Kabar manis tentang Batam tersiar,gaji yang lebih tinggi dari daerah lain memacu semangat dari berbagai daerah tidak ketingalan warga simalunun.Perkembangan ini sangat mendukung perkembangan jumlah Jemaat GKPS Persiapan.Gereja yang berlokasi di Blok IV walau sudah direnovasi tidak mampu menampung jemaat GKPS BAtam yang semkin hari semakin bertambah.MElihat keadaan ini sekaligus melihat lingkungan dan kenyamanan,majelis jemaat mengusulkan mencari lokasi baru yang lebih baik.

Sesudah kebaktian di Gereja GKPSblok IV Nagoya beberapa orang tua dan pemuda mengakan rapat kilat di rumah Kel.Sy.Samen E.Girsang /M.br.Saragih di Komplek kesehatan Pelabuhan Baloi Persero adapun yang hadir pada hari itu adalah:
1.Sy.Samen E.Girsang (tuan rumah)
2.Ir.Kandi Saragih
3.Ir.Arifin Purba
4.Sy.Edi L.H.Saragih Purba SE

Adapun hasil rapat pada hari itu adalah:
Meninjau lokasi hutan yang ada di Baloi Anggrek dan di perpustakaan pada saat itu supaya dirintis/dibersihkan tanpa sepengetahuan Otorita Batam.Usaha dan ker jasama yang baik maka lokasi yang layak ditemukan di wilayah Baloi Anggrek .Pembangunan gedung Gereja dimulai pada tgl 04 Mei 1993.Berkat kerjasama dang kegotong royongan serta keakraban kesatuan jemaat dengan majelis dan orang tua pembangunan dapat terlaksana dengan cepat dan mulai digunakan sebagai tempat ibadah sejak 03 Mei 1993.Namun pdt.Jadasri Dosdo Saragih mewakili jemaat yang hadir segera dengan tegas memberanikan diri memperjuangkan untuk meneruskan pembangunan Gereja seraya berkata “langkahi dulu mayat saya”baru batalkan pembangunan ini .Selanjutnya tentu saja Pdt.Jadasri,STh berurusan dengan pihak keamanan Otorita Batam.

Mendirikan bangunanpun terus berlanjut dan saat menaikan salib diatas bangunan segenap Jemaat menayanyikan pujian “Silang Ni Tuhanki Ima Pujionku”(haleluya 31)Pimpinan majelis jemaat berjalan meneteskan air mata pertanda rasa bangga,sukacita juga rasa haru.Bangunan GKPS berdiri diatas tanah milik Otorita Batam dengan penuh perjuangan .

Dengan adanya lokasi dan bangunan Gereja yang baru,maka bangunan Gereja yang ada di Blok IV digunakan sebagai tempat pemondokan bai pemuda yang belum bekerja sekaligus tetap digunakan sebagai tempat sermon Majelis Jemaat,Partupuan wanita,tempat partonggoan pemuda,latihan koor dan kegiatan gereja lainya.Bangunan sederhana ini digunakan sebaga pusat segala kegiatan GKPS Persiapan Batam.

PERJALANAN PANJANG ALOKASI TANAH

Untuk mendapatkan sebidang tanah dan satu lembar sertifikat Izin Mendirikan Bangunan satu gedung gereja tidak semudah mengumpulkan dana atau menghimpun anggottanya. Untuk memperoleh ijin tersebut membutuhkan perjuangan dan keberanian dan semangat yang tidak kena l menyerah. Tantangan demi tantangan silih berganti dari pihak Otorita Batam maupun masyarakat. Sehingga bertahun-tahun lamanya berjuang untuk merealisasikan impian dan harapan mendirikan bangunan gedung “Gereja GKPS” yang permanent /resmi di Pulau Batam.

Sejak tahun Mei 1989 pertama sekali atas nama GKPS Batam diajukan surat permohonan kavling yang ditujukan kepad pelaksana Otorita Batam. Kemudian tanggal 23 April 1990 berdasarkan surat Pimpinan Pusat GKPS (Ephorus Pdt.A.Munthe MTh) No. 466/3-90/12.04.1990 ke Otorita Batam, hal surat pimpinan GKPS (Ephorus Pdt.Jas.Damanik, STh) bulan Nopember 1990 kepada Menristek selaku Ketua Otorita Batam, Prof.Dr.Ir.B.J.Habibie. Pengajuan surat-surat dari jemaat Batam maupun Pimpinan Pusat GKPS berlanjut setiap tahun. Usaha-usaha ini semakin berkembang dengan dibentuknya Panitia Pembangunan GKPS Batam dengan susunan sebagai berikut :
1. Ketua : St.Ir.Rusman Purba, MBA
2. Wakil Ketua : Drs.Samuel Purba
3. Sekretaris : Sy.Ir.arifin Purba
4. Wakil Sekretaris : Sy.Ir.Janner Damanik
5. Bendahara : St.Mariani Roselinda Saragih
Dengan pertolongan Tuhan serta bantuan berbagai pihak, permohonan lokasi tanah tersebut desetujui dengan keluarnya izin Prinsip dari Otorita Batam pada bulan Agustus 1993. Setelah meninjau beberapa lokasi maka Penetapan Lokasi (PL) oleh pihak Otorita Batam disepakati di Bengkong Indah yanga mana diatas lahan tersebut berdiri banyak rumah liar (ruli) dari penduduk setempat. Pada tanggal 19 Nopember 1993, Otorita Batam melalui suratnya tentang Penetapan Lokasi (PL) No. 93030311 menyetujui dan memberikan sebidang tanah untuk alokasi pertapakan gereja GKPS seluas 2.500 M2 di Sei Panas. Di atas tanah tersebut didirikan gereja yang sederhana. Tanggal 12 April 1994 bertempat di rumah St.Drs.Janusi Purba dibentuklah Panitia Peresmian Gereja GKPS Batam.
Panitia Peresmian Gereja GKPAS Batam :
1. Ketua Umum : St.Ir.Rusman Purba,MBA
2. Ketua I : St.Drs.Janusi Purba
3. Ketua II : Sy.Paris Damanik
4. Ketua III : Sy Samen E.Girsang,MBA
5. Sekretaris Umum : St.Holman Purba
6. Sekretaris I : St.Jasarmen Purba, MBA
7. Sekretaris II : Sy.Ir.Jan Kandi saragih
8. Sekretaris III : Edward B Purba, SH
9. Bendahara Umum : St.Mariani Roselinda Sumbayak
10. Bendahara I : Sy.Edi LH S.Purba,SE
11. Bendahara II : Sy.Horasman Saragih,SE
Kemudian panitia menetapkan rencana peresmian sekitar bulan Nopember 1994. Dengan demikian Majelis Jemaat mendelegasikan pengurus local dan peresmian sepenuhnya kepada panitia peresmian yang baru dibentuk.

Kendala kembali muncul, pemindahan rumah liar yang berdiri di atas lokasi yanga ditentukan tidak dapat dilakukan sesuai dengan waktu yang diharapkan, walaupun kewajiban berupa Pembayaran Uang Wajib Tahunan Otorita Batam (UWTO) telah dilunasi. Hal ini sempat diekspos Pdt. Jadasri Dosdo Saragih pada saat bertatapan muka/perkenalan antara tokoh-tokoh agama dengan Kasatlak Otorita Batam yang baru. Kemudian atas inisiatif Kasatlak Otorita Batam yang baru (Bapak Djatmiko), mengundang pengurus gereja GKPS untuk mengadakan pertemuaan khusus. Pengurus yang mengikuti pertemuan khusus di Kantor Otorita Batam antara lain :
• Pdt.Jadasri Dosdo Saragih
• St.Drs.Janusi Purba
• St.C.Y.Purba
• St.Djasarmen Purba
• Pdt. H.I.Sinagas

Hasil pertemuan khusus, Kastlak memerintahkan Direktur Perencanaan Otorita Batam (Ir. Cahyono) didampingi oleh stafnya Ir. Asrono Harapan, untuk mencari lahan pengganti. Urusan ke Otorita Batam, Majelis Jemaat menunjuk St. Djasarmen Purba. Dalam proses pencarian lahan ada beberapa alternative lokasi yang ditunjuk lalu Jemaat GKPS memilih lokasi di Bengkong Bengkel (depan perumahan Sakura). Lokasi yang berada di bukit Bengkong Bengkel sangat indah memandang ke daerah Batu Ampar, kelihatan gedung-gedung tinggi Singapura dari kejauhan. Jemaat menyambut dengan sukacita luapan perasaan tak tertutupi. Hal ini dapat dilihat dengan kehadiran jemaat mengikuti gotong royong, penebangan kayu, memotong rumput ilalang dan sebagainya. Sukacita yang meluap dari anak sekolah minggu, pemuda, orang tua, bergotong royong, mengingat sekian lama untuk menunggu penetapan lokasi, baru terealisasi.
Namun setelah tiga kali bergotong royong bahkan pernah satu kali mengadakan acara kebaktian minggu, jemaat GKPS kembali kecewa dengan adanya perintah dilarang mendirikan bangunan di atas lokasi tersebut dari pihak Otorita Batam. Ternyata lokasi ini masuk dalam bukit penyerapan air. Kembali rasa kecewa dan air mata tak tertutupi, karena kebahagiaan hanya sesaat. Pencabutan izin ini ternyata tanpa sepengetahuan Ir.Asroni Harahap, sehingga beliau sangat marah dan merasa malu pada jemaat GKPS. Kepada St. Djasarmen Purba, beliau berjanji untuk mencari lahan yang cukup strategis. Yang mana Ir.Asroni Harahap menunjukkan peta sekaligus meninjau lpkasi di Sei Panas, pada saat itu lokasi yang ditunjuk tidak bisa dijalani kendaraan, sebahagian tanah sangat rendah, sekeliling ada kuburan serta kandang ayam milik saudara Seng Huat.
Pada awalnya bayak jemaat keberatan atas lokasi tersebut, namun atas dorongan Ir. Asroni Harahap yang menjamin di depan lokasi itu akan segera dibangun jalan, maka warga jemaat menyetujuinya. Gotong royong kembali dikerahkan, tak terucapkan kata-kata sukacita dengan semangat dan kegembiraan semua jemaat turun ke lokasi. Pemindahan bangunan gereja dari Baloi Anggrek ke Se Panas segera dilaksanakan, Pelaksanaan dan pengawasan dibentuk.
Pemindahan bangunan Gereja dari Baloi Anggrek ke Sei Panas diserahkan sepenuhnya kepada Pemuda GKPS yang dikordinir Sy.Bentul Damanik dkk. Pengawasaan pekerjaan ditunjuk Sy.JS.Sipayung dengan catatan bahan-bahan bangunan dari Baloi Anggrek semua dipergunakan untuk bangunan di Sei Panas.
Kegiatan bongkar pasang memakan waktu lebih kurang tiga minggu. Selama bongkas pasang berlangsung kebaktian minggu dilaksanakan di sebuah gubuk milik tetangga saudara Seng Huat yang kebetulan berdiri di dalam lahan gereja. Pada tanggal 18 September 1994 dilangsungkan kebaktian gereja yang pertama kali diatas lahan resmi milik GKPS Batam, Parhorja antara lain :
• St.Edi L.H saragih Purba, SE sebagai pembawa Firman (Perambilan)
• St.S.E. Girsang, MBA sebagai Liturgos (Paragenda)
• St.Mariani Roselinda Saragih sebagai pembawa lagu pujian (Doding)
Patut disyukuri partisipasi dan dukungan yang dimotori oleh pemuda (sebagai) jemaat